SEJARAH SINGKAT KAL-TENG

Saat awal pembangunan ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah
(Foto : Dokumentasi Keluarga Tjilik Riwut)

Sejarah singkat pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah dan pemancangan tiang pertama Kota Palangka Raya dapat diketahui dari sambutan Tjilik Riwut pada perayaan Hari Ulang Tahun  ke-13 Kota Palangka Raya yang diawali dengan sambutan seperti di bawah ini  :

“Bapak Panglima, Bapak Gubernur, ibu-ibu, saudara-saudara para hadirin yang terhormat!
Bersyukur kepada Yang Maha Besar Tuhan bahwa pada malam ini kami dapat menghadiri perayaan HUT XIII Kota Palangka Raya, di Kota Palangka Raya, ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah yang kita cintai.
Pepatah mengatakan: “Tak kenal, tak cinta“,  dengan demikian untuk  lebih mencintai Kalimantan Tengah dan ibu kotanya Palangka Raya, maka perlu sekali kita mengetahui sejarah pembentukan dan perjuangannya. Sejarah singkat ini akan kami baca secara bertingkat:”

Latar belakang Sejarah Pembentukan
Propinsi Kalimantan Tengah

Semenjak tahun 1954, bertubi-tubi mosi dan resolusi-resolusi dan pernyataan-pernyataan dari parpol/ormas dan masyarakat seluruh Kalimantan Tengah yang ditujukan kepada pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang pada pokok isinya adalah sama yaitu “menuntut daerah otonom Propinsi Kalimantan Tengah tersendiri”.
Selanjutnya pada akhir tahun 1956 waktu sidang parlemen atau DPR Pusat membicarakan rancangan Undang-undang pembentukan 3 (tiga) Propinsi di Kalimantan yakni :
a.    Kalimantan Selatan (dalam hal ini termasuk di dalamnya Propinsi Kalimantan Tengah yang sekarang ini).
b.    Propinsi Kalimantan Timur.
c.    Propinsi Kalimantan Barat.

Maka hasrat rakyat Kalimantan Tengah yang disalurkan melalui :
1)    Parpol / ormas.
2)    Penyalur Hasrat Rakyat Kalimantan Tengah.
3)    Akhirnya disalurkan melalui Kongres Rakyat Kalimantan Tengah dalam pimpinan Ketua Presidium Kongres, yakni Sdr. Mahir Mahar, dan tokoh-tokoh Kalimantan Tengah lainnya, yang dilangsungkan di Kota Banjarmasin mulai tanggal 2 s/d 5 Desember 1956, dihadiri oleh 600 utusan yang mewakili segenap lapisan rakyat dari seluruh Kalimantan Tengah mengenai Pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah.

Maka dari hasil Kongres tersebut, telah melahirkan resolusi sebagaimana yang kami baca sebagai berikut:

R E S O L U S I
KONGRES  RAKYAT SELURUH KALIMANTAN TENGAH

Kongres Rakyat Kalimantan Tengah, yang dilangsungkan mulai pada tanggal 2 s/d 5 Desember 1956 di Banjarmasin, dihadiri oleh 600 utusan-utusan yang mewakili segenap lapisan rakyat dari seluruh daerah Kalimantan Tengah, mengenai Pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah.
Mendengar        :     Pandangan–pandangan, prasaran – prasaran dan  nasihat dari utusan- utusan  rakyat, tokoh-tokoh organisasi-organisasi, partai-partai dan badan-badan yang   menyalurkan perjuangan Rakyat Kalimantan Tengah.
Memperhatikan  :  Keputusan   Parlemen    Republik    Indonesia   pada tanggal 22 Oktober 1956, yang memberikan ketentuan bahwa Kalimantan Tengah akan dijadikan suatu propinsi Otonomi dalam jangka waktu selambat-lambatnya Tiga Tahun.
Menimbang     :
a. Bahwa jangka waktu yang ditentukan selambat-lambatnya Tiga Tahun tersebut, belum dapat menjadi dasar pegangan yang positip, padahal suasana di Kalimantan Tengah dalam waktu akhir-akhir ini sungguh menggelisahkan akibat dari Semangat Rakyat yang meluap-luap menghendaki segera terbentuknya Propinsi Kalimantan Tengah.
b. Bahwa    apabila    hal    ini    dibiarkan,   maka kemungkinan  akan  timbul  hal-hal  yang  akan    mengakibatkan kerugian yang sangat besar bagi rakyat dan negara Republik  Indonesia.

M E M U T U S K A N  :

“ MENDESAK KEPADA PEMERINTAH REPUBLIK INDONESIA AGAR DALAM WAKTU YANG SESINGKAT-SINGKATNYA, DENGAN PENGERTIAN SEBELUM TERLAKSANANYA PEMILIHAN UMUM UNTUK DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH, KALIMANTAN TENGAH   SUDAH DIJADIKAN SUATU PROPINSI OTONOMI “.

Keputusan ini dikeluarkan :
Di     :   Banjarmasin
Tgl    :   5 Desember 1956
Oleh Kongres Rakyat Kalimantan TengahTertanda
KETUA PRESIDIUM KONGRES

M.Mahar

D E W A N  R A K Y A T  K A L I M A N T A N  T E N G A H.L A M P I R A N

R E S O L U S I  K O N G R E S  R A K Y A T  S E L U R U H
K A L I M A N T A N  T E N G A H

 

Dewan Rakyat Kalimantan Tengah,  yang dibentuk oleh Kongres Rakyat Kalimantan Tengah, dalam sidang plenonya tanggal 7 Desember 1956, telah memutuskan, mengeluarkan suatu saran kepada pemerintah sebagai berikut :

A.    Memohon kepada pemerintah agar mengeluarkan suatu pernyataan,  MENGAKUI  dan MENYETUJUI SEPENUHNYA AKAN TUNTUTAN Rakyat Daerah Kalimantan Tengah.
B.    Pelaksanaannya dari pengakuan ini haruslah serempak dengan pengangkatan gubernur-gubernurnya untuk Kalimantan Selatan, Timur, dan Barat, dengan menyatakan bahwa dengan  B E S L U I T tanggal . . . No . . .(tidak terbaca ) menunjuk seorang yang menjadi Gubernur Pembentuk Propinsi Kalimantan Tengah.

Banjarmasin, 7 Desember 1956.Dewan  Rakyat   Kalimantan Tengah

Ketua                 Sekretaris :

d.t.t.                     d.t.t.

M.  Mahar                H. Ukur

Sidang Parlemen di Jakarta telah mensahkan Undang-undang No. 25 tahun 1956 yang berlaku terhitung tanggal 1 Januari 1957, tentang Propinsi Kalimantan lama dibagi menjadi 3 propinsi baru, hanya dalam penjelasan Undang-undang tersebut dinyatakan bahwa sesudah 1 (satu) tahun dibentuk wilayah Propinsi Kalimantan Tengah melalui Karesidenan terlebih dahulu.

Kongres Rakyat Kalimantan Tengah telah mengirim utusan menghadap Gubernur Kalimantan (pada saat itu Gubernur Milono) dan menghadap Pemerintah Pusat menghaturkan keputusan dan tuntutan Kongres Rakyat Kalimantan Tengah yang telah dibaca di atas tadi, serta memberikan penjelasan-penjelasan. Hasilnya didapatkan pengertian  dan persesuaian pendapat dimana Pemerintah Pusat cq. Menteri Dalam Negeri telah mengambil satu keputusan pada tanggal 28 Desember 1956 nomor: U.P.34/41/24, antara lain menetapkan:

Mulai tanggal 1 Januari 1957 membentuk “Kantor Persiapan Pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah” yang berkedudukan langsung di bawah Kementerian Dalam Negeri dan sementara ditempatkan di Banjarmasin, dan ditetapkan Personilnya terdiri dari 21 orang. Mereka berkantor sementara di Kantor Gubernur Kalimantan lama dan Gubernur Milono sebagai Gubernur pada Kementerian dalam Negeri ditunjuk / ditugaskan sebagai Gubernur Pembentuk Propinsi Kalimantan Tengah. Adapun tugas-tugas yang menyangkut urusan Pemerintah Pusat langsung bertanggung jawab kepada Menteri Dalam Negeri. Urusan daerah Otonom bertanggung jawab kepada Gubernur Kepala Daerah Kalimantan Selatan.

Dalam hal ini untuk membantu Koordinasi Keamanan Propinsi Kalimantan untuk memulihkan ketertiban dan keamanan di Kalimantan Tengah maka dibentuklah Panitia Pemulihan Keamanan Daerah Kalimantan Tengah yang terdiri dari Anggota  Presidium Dewan Rakyat Kalimantan Tengah sebanyak  6  orang yang diketuai oleh Sdr. Mahir Mahar.

Latar belakang Sejarah Pembentukan/Penetapan Kota Palangka Raya sebagai Ibu Kota Propinsi Kalimantan Tengah

Dengan terbentuknya Kantor Pembentuk Propinsi Kalimantan Tengah yang sementara berkedudukan di Banjarmasin, bermunculan lah suara-suara, tuntutan-tuntutan pernyataan dari parpol/ormas dan dari daerah-daerah masing-masing menurut iramanya sendiri-sendiri agar ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah ditetapkan di daerahnya masing-masing.

Dari daerah Barito meminta agar Muara Teweh atau Buntok menjadi ibu kota. Daerah Kahayan. Kapuas, menghendaki Kuala Kapuas dan Pulang Pisau sebagai ibu kota. Daerah Katingan, Mentaya (Sampit), Seruyan, menghendaki Kota Sampit menjadi ibu kota. Daerah Pangkalan Bun pun tidak ketinggalan memberikan saran/tuntutan agar Pangkalan Bun menjadi ibu kota.

Berkenan dengan itu, maka bapak Milono, Gubernur Pembentuk Propinsi Kalimantan Tengah telah mengambil suatu kebijaksanaan membentuk satu panitia untuk merumuskan dan mencari di mana daerah  atau tempat yang pantas/wajar untuk dijadikan ibu kota propinsi Kalimantan Tengah.

Panitia tersebut dibentuk pada tanggal 23 Januari 1957, terdiri dari:
1.    Mahir Mahar, Ketua Kongres Rakyat Kalimantan Tengah sebagai ketua merangkap anggota.
2.    Tjilik Riwut, residen pada Kementerian Dalam Negeri dpb. Gubernur Pembentuk Propinsi Kalimantan Tengah sebagai anggota.
3.    G. Obus, Bupati KDH dpb. Gubernur Pembentuk Propinsi Kalimantan Tengah sebagai anggota.
4.    E. Kamis, pensiunan Kiai kepala/pegawai PT Sampit Dayak di Sampit sebagai anggota.
5.    C. Mihing,  pegawai  Jawatan Penerangan Propinsi Kalimantan di Banjarmasin sebagai anggota dan sekretaris.

Sebagai Penasihat Ahli:
1.    R. Moenasir, Kepala Dinas PU Persiapan Propinsi Kalimantan Tengah.
2.    Ir. Van Der Pijl, pegawai PU Persiapan Propinsi Kalimantan Tengah bagian gedung-gedung.

Setelah panitia mengadakan rapat-rapat serta menghubungi tokoh-tokoh Kalimantan Tengah dan penjabat-penjabat pimpinan militer dan sipil tingkat Kalimantan di Banjarmasin, antara lain mendapat restu dari Kolonel Koesno Oetomo Panglima Tentara dan Teritorium VI/Tanjung Pura, didapat kesimpulan, “bahwa di sekitar Desa Pahandut di Kampung Jekan dan sekitar Bukit Tangkiling ditetapkan untuk calon ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah“.

Alasan-alasan/dasar-dasar untuk memilih tempat tersebut menjadi calon ibu kota antara lain sebagai berikut:
1.    Karena ada perbedaan pendapat tentang calon-calon ibu kota, misalnya ada yang mengusulkan Kuala Kapuas, Pulang Pisau, Buntok, Muara Teweh, Sampit dan Pangkalan Bun, maka dipandang perlu dicari satu kebijaksanaan untuk mengatasi perbedaan pendapat ini.
2.    Panitia berpendapat pula karena alasan penuntutan (1) diatas perlu sekali dicari jalan keluar, yaitu mencari daerah baru yang dapat diterima oleh sebagian besar rakyat Kalimantan Tengah dan penjabat-penjabat pemerintah tingkat Kalimantan.
3.    Panitia pun berpendapat, alangkah baiknya apabila calon ibu kota itu berada di tengah-tengah masyarakat seluruhnya untuk memudahkan melaksanakan proses kepemimpinan dan koordinasi pada masa-masa yang akan datang, dan memiliki satu kota baru yang dibangun di tengah-tengah hutan rimba dengan kekuatan bangsa Indonesia sendiri di alam merdeka.
4.    Dan lain-lain alasan dipandang dari sudut politik, sosial, ekonomi, pertahanan keamanan dan psikologi.

Pada bulan Januari 1957, panitia telah berangkat menuju daerah calon ibu kota dengan pimpinan M. Mahar, untuk mengadakan penelitian dan pembicaraan dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Hasil dari peninjauan/penelitian tersebut telah dilaporkan kepada Gubernur Pembentuk Propinsi Kalimantan Tengah, Pemerintah Pusat, dan mendapat persetujuan sepenuhnya bahwa daerah tersebut menjadi calon ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah.

Maka dengan Undang-undang Darurat No.10 tahun 1957, L.N. No.53 tahun 1957 yang berlaku mulai tanggal 23 Mei 1957 yang dinamai Undang-undang Pembentukan Daerah Swatantra Propinsi Kalimantan Tengah dan merupakan perubahan Undang-undang No.25 tahun 1956 tentang pembentukan daerah-daerah swatantra propinsi Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur, dalam Pasal 2 ayat 1, undang-undang tersebut berbunyi sebagai berikut:

“Ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah adalah Pahandut. Untuk sementara waktu Pemerintah Daerah Swatantra Propinsi Kalimantan Tengah berkedudukan di Banjarmasin.“

Sementara dalam pasal 3 ayat 1, Undang-undang tersebut dinyatakan DPRD Propinsi Kalimantan Tengah terdiri dari 30 orang anggota.
Selanjutnya dengan Undang-undang No. 27 tahun 1959 L.N. No. 72 tahun 1959 ditetapkan bahwa ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah adalah Palangka Raya.
Sesudah Undang-undang Darurat tersebut ditetapkan maka pada tanggal 17 Juli 1957 jam 10.17 menit telah diletakkan tiang pertama ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah oleh Presiden RI Hal ini disaksikan oleh masyarakat Kalimantan Tengah, pejabat- pejabat sipil dan militer tingkat Kalimantan dan Kalimantan Selatan/Kalimantan Tengah, serta  6  orang termasuk Menteri PUT, Ir. Pangeran Mochamad Noor dan para Corps Diplomatik serta para wartawan dalam dan luar negeri yang memprakarsai pendirian dan pembangunan ibu kota Palangka Raya.  Ir. Pangeran Moch. Noor adalah Gubernur RI yang pertama di Kalimantan yang berkedudukan di Yogyakarta dari tahun 1945 s/d 1949, yang memang telah mempunyai rencana dan cita-cita membuka Kalimantan termasuk Kalimantan Tengah.

Berdasarkan Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri No. Des.52/12/2-206, tanggal 22 Desember 1959 telah ditetapkan untuk memindahkan tempat kedudukan Pemerintah Daerah Kalimantan Tengah dari Banjarmasin ke Palangka Raya terhitung mulai tanggal 20 Desember 1959.

Kemudian dengan Undang-undang No. 5 tahun 1965 Kotamadya Palangka Raya dibentuk menjadi Kotamadya Otonom yang diresmikan pada 17 Juni 1965 oleh Menteri Dalam Negeri. Satu keistimewaan yang patut dicatat dalam sejarah Kotamadya Palangka Raya, bahwa Lambang Kotamadya Palangka Raya telah diterjunkan dari udara dan dibawa oleh sukarelawan/sukarelawati dari atas Kota Palangka Raya  bersama pasukan payung.

Sebagai catatan penutup/terakhir agar penjelasan bermanfaat untuk kita bersama untuk memelihara dan meneruskan pembangunan Kota Palangka Raya, disertakan amanat Bapak Milono pada hari peletakan tiang pertama Kota Palangka Raya, yang menyatakan:

“Nama yang diberikan ini ialah: Palangka Raya. Palangka Raya artinya tempat yang Suci, yang Mulia dan Besar. Oleh karena itu sesuaikan nama ini dengan cita-cita yang dilahirkannya di Kalimantan Tengah dan semoga memberikan contoh yang baik bagi lain-lain daerah.”

Demikianlah sejarah singkat dan latar belakang pembentukan Propinsi Kalimantan Tengah dan penetapan Palangka Raya menjadi ibu kotanya.

Presiden Republik Indonesia  Pertama Ir. Soekarno,
mantejek tihang ije solake pembangunan Kota Palangka Raya,
tanggal 17 Juli 1957 jam 10.17 menit
(Foto : Dokumentasi keluarga Tjilik Riwut)

 

Penyerahan Piagam Palangka Raya

Laporan Singkat Pertemuan Delegasi Kalimantan Tengah dengan Pemerintah Pusat di Jakarta,
Saat Penyerahan Piagam Palangka Raya

Laporan  singkat ini bercerita tentang pembicaraan delegasi Kalimantan Tengah dengan Pemerintah Pusat di Jakarta ketika membawa Piagam Palangka Raya, hasil dari Musyawarah Nasional Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah yang diadakan pada tanggal 25 s/d 30 Nopember 1958 di Palangka Raya.
Delegasi Kalimantan Tengah ini terdiri atas:
Ketua         :   Letnan Kolonel Darmosugondo,Komandan Komando Daerah Militer (Kodam) Kalimantan Tengah.
Wakil Ketua     :   Tjilik Riwut,  Gubernur  /  Kepala   Daerah  Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah.
Anggota-anggota :
1.    Raden Gampang Prawirosastro, Kepala Polisi Propinsi Kalimantan Tengah.
2.    J.C. Rangkap, Bupati/Kepala daerah Swatantra Tingkat II Kapuas.
3.    Kapten B. Bajupati.
4.    Cyrillus Ulfah Ringkin, Anggota Polisi Negara.

Di Jakarta delegasi telah menemui :
1.    Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia Dr .Ir. Soekarno.
2.    Yang Mulia Perdana Menteri  Republik Indonesia Ir. Djuanda.
3.    Yang Mulia Wakil Perdana Menteri II  Idham Chalid.
4.    Kepala Staf Angkatan Darat, Letnan Djendral A.H. Nasution.
5.    Yang Mulia Menteri Dalam Negeri yang diwakili oleh Sekjen Menteri Dalam Negeri Raden Soeparto.
6.    Yang Mulia Menteri Pelayaran, Komodor Moh Nasir.
7.    Yang Mulia Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Ir. Pangeran Moh. Noor.
8.    Yang Mulia Menteri Negara Urusan Transmigrasi Dr. F.L. Tobing.
9.    Wakil Ketua Dewan Nasional Ruslan Abdulgani.

15 Desember 1958
Delegasi berunding di Medan Merdeka Selatan 13 (bekas istana wakil Presiden RI). Gubernur Tjilik Riwut sebagai Wakil Ketua delegasi berhubungan dengan Istana dan Kementerian-kementerian. Keputusan yang didapat bahwa delegasi dapat diterima pada tanggal 16 Desember 1958 oleh Y.M. Menteri Dalam Negeri.

16 Desember 1958
Jam 10.00 delegasi dengan resmi diterima oleh Sekjen Menteri Dalam Negeri yang mewakili Y.M. Menteri Dalam Negeri (berhalangan hadir karena sakit). Ketua delegasi Letnan Kolonel Darmosugondo telah menyerahkan hasil Musyawarah Nasional Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah dengan nama Piagam Palangka Raya dan Naskah Bersama dalam bentuk satu buku. Dengan singkat dijelaskan oleh Ketua Delegasi bahwa Musyawarah ini merupakan sumbangsih dari daerah untuk merealisasikan Pembangunan daerah Kalimantan Tengah sebagai lanjutan dari Musyawarah Nasional Pembangunan Pusat.

Pelaksanaan pembangunan dalam jangka pendek (1 tahun) dan jangka panjang (5 tahun) adalah menjadi pegangan dari musyawarah. Para pelaksana boleh pindah, orangnya boleh berganti, jika perlu mati, tetapi Piagam Palangka Raya, tetap menjadi pegangan bagi pembangunan daerah. Y.M. Menteri (dalam hal ini Sekjen) yang menghadiri sendiri musyawarah itu di Palangka Raya dan telah mempersaksikan sendiri kesederhanaan tempat dan caranya, sangat berbesar hati dapat menerima hasil musyawarah ini. Beliau mengucapkan terima kasih kepada delegasi dan bersedia menyampaikan hal ini kepada Y.M. Menteri Dalam Negeri, dan tiap-tiap pokok yang tertulis dalam musyawarah itu akan disalurkan dan dipelajari secara seksama oleh masing-masing bagian pada Kementerian Dalam Negeri dan kementerian yang lain.

Yang Mulia Menteri selanjutnya meminta sedikit penjelasan maupun tambahan dari isi Musyawarah itu. Ketua Delegasi menyerahkan kesempatan untuk memberi penjelasan tersebut kepada Wakil Ketua yaitu Gubernur Tjilik Riwut.
Secara singkat Gubernur Tjilik Riwut telah menguraikan beberapa hal antara lain :
1.    Pembangunan Kota Palangka Raya sedapat mungkin selesai tanggal 17-8-1959, dengan pembangunan rumah-rumah dan gedung sebanyak 300 sampai 400 buah.
2.    Pembukaan jalan-jalan dan hubungan laut, darat dan udara dipercepat.
3.    PTT dan RRI supaya tahun 1959 dapat selesai dibangun.
4.    Pengangkutan yang dapat dilaksanakan dalam jangka pendek untuk kepentingan sipil dan militer diantaranya motorboat, jeep, pick up,truck, dsb.
5.    Penerangan listrik pada tempat-tempat penting di seluruh Kalimantan Tengah.
6.    Pelabuhan-pelabuhan baru di Mintin dan Kuala Kapuas, dan memperbaiki dan memperluas pelabuhan Sampit dan Kumai. Pengerukan muara Sungai Kapuas dan Kahayan.
7.    Transmigrasi sangat diperlukan mengingat daerah sangat luas sekali, sedangkan operasi makmur sebagian besar akan dilaksanakan di daerah Kalimantan Tengah.
8.    Dan lain-lain hal yang telah dijelaskan di dalam Piagam Palangka Raya.

Y.M. Menteri Dalam Negeri telah memberikan kesediaan diri untuk menjadi perantara agar delegasi dapat diterima oleh menteri-menteri yang lainnya walaupun pada saat ini pemerintah sedang sibuk menerima Tamu-tamu Agung, diantaranya Presiden India dan disusul pula dengan Presiden Yugoslavia. Dengan ramah sekali Y.M. Menteri menerima delegasi dan akan memberi bantuan yang besar sekali bagi daerah Kalimantan Tengah.

17 Desember 1958
Delegasi diterima oleh Wakil Ketua Dewan Nasional Ruslan Abdulgani di Gedung Dewan Nasional. Seperti pada tanggal 16 Desember 1958, waktu penyerahan Piagam Palangka Raya, yaitu pada saat ini pula pada jam 10.15 Ketua Delegasi menyerahkan buku tersebut kepada Wakil Ketua Dewan Nasional, dengan penjelasan yang sama oleh Gubernur Tjilik Riwut, dengan tambahan dimohonkan tenaga-tenaga ahli dan diterangkan bahwa jalan-jalan menuju Sungai Hanyu, dimana akan didirikan Monumen Dewan Nasional akan mulai dikerjakan pada tahun 1959.
Sebagai sambutan atas hasil musyawarah ini, wakil Ketua Dewan Nasional antara lain mengatakan :
1.    Bahwa hasil dari Musyawarah Dewan itu sudah lebih dahulu diterima oleh Dewan Nasional di Jakarta.
2.    Apa yang disampaikan ini adalah satu ketegasan dari Kalimantan Tengah sebagaimana tebalnya buku ini, demikian pula semangat hendaknya.
3.    Keputusan-keputusan ini adalah tepat pada waktunya, disampaikan kepada pemerintah Pusat, adalah tidak cepat dan tidak pula terlambat.
4.    Bekerja, di mana Dewan Perancang Nasional sekarang sedang membuat rencana, adanya musyawarah ini adalah memberi cukup bahan-bahan.
5.    Bahan-bahan yang dibawa adalah lebih mendahului dari orang yang ditunjuk menjadi Perancang Dewan Nasional.
6.    Kami ingin menjadikan Kalimantan satu model dan modal (sungai Hanyu khususnya) dengan Lembaga Pembangunan Monumen Nasional. Monumen mana adalah satu perpaduan antara materiel dan spritual. Cita-cita ini adalah berani. Anggota Dewan Nasional Henk Ngantung mempunyai laporan yang sangat berharga sekali yang dibawanya dengan lukisan realitas keadaan Kalimantan.
7.    Hasil Musyawarah ini akan disampaikan kepada Ketua Dewan Nasional yaitu P.Y.M. Presiden Soekarno.
8.    Tjilik Riwut sebagai anggota Dewan Nasional akan diperintahkan melakukan perjalanan ke seluruh Tanah Jawa untuk berhubungan dengan kepala-kepala daerah dan instansi-instansi yang bersangkutan untuk mulai melaksanakan sesuatu dengan nyata, dan akhirnya.
9.    Beliau menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada delegasi bahwa Kalimantan bukan saja satu Pion, akan tetapi sedikit-sedikitnya satu Benteng kalau tidak dapat disebutkan satu Batu dari sudut geografis dari kepulauan Nusantara.

Dengan berbesar hati, delegasi sesudah diterima dengan ramah-tamah meninggalkan gedung Dewan Nasional. Jam 11.00 delegasi diterima oleh Y.M. Menteri Pelayaran Komodor Moh.Nasir, dan sesudah Ketua Delegasi menyerahkan buku Piagam Palangka Raya, maka Wakil Ketua, Gubernur Tjilik Riwut memberikan penjelasan seperti kepada Y.M. Menteri Dalam Negeri dan Wakil Ketua Dewan Nasional.
Dan lebih ditekankan lagi antara lain :
1.    Minta kapal-kapal untuk pelayaran di pantai dan di sungai.
2.    Membuat pelabuhan baru yang memperluas serta memperbaiki pelabuhan-pelabuhan yang ada di Kalimantan Tengah
3.    Muara-muara sungai supaya dikeruk dan lampu-lampu untuk tanda di laut diadakan.
4.     Minta diadakan sekolah pelayaran di Kalimantan Tengah dan membuat tempat pembangunan kapal-kapal yang dapat dibangun di Danau Sambuluh Kuala Pembuang.

Y.M. Menteri menyatakan :
1.    Dengan ucapan terima kasih menerima Piagam Palangka Raya ini, dan akan mempelajarinya dengan seksama.
2.    Kalimantan Tengah akan mendapat bantuan kapal yang besarnya kira-kira 600 ton, dan kalau tidak ada halangan apa-apa pada pertengahan Pebruari 1959 akan dapat diterima.

Y.M. Menteri, selain sendiri menerima delegasi dengan resmi dan penuh ramah tamah, secara kekeluargaan merasakan diri berasal dari Kalimantan karena semasa masih muda sudah kenal baik dengan Bupati/Kepala daerah Swatantra Tingkat II Kapuas, J.C. Rangkap sebagai olahragawan.
Jam 17.15 delegasi diterima oleh Y.M. Wakil Perdana Menteri II Idham Chalid. Sesudah Ketua Delegasi menyerahkan hasil musyawarah, Gubernur Tjilik Riwut menjelaskan garis-garis besar apa yang menjadi tuntutan dari Musyawarah Pembangunan Nasional diadakan di Palangka Raya.
Y.M. Perdana Menteri II menyatakan :
1.    Terima kasih yang setinggi-tingginya karena delegasi telah menyerahkan satu kepercayaan yang besar kepada Beliau sebagai seorang anggota kabinet yang banyak memperhatikan pertumbuhan daerah Kalimantan Tengah. Apalagi pula telah terbuka hatinya untuk kepentingan pembangunan daerahnya secara meluas.
2.    Menteri Transmigrasi sedang betul-betul mempelajari agar tidak terjadi kembali kegagalan mendatangkan transmigran ke daerah-daerah. Semua kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan akan menjadi pelajaran di kemudian hari.
3.    Menurut pendapat Beliau, delegasi ini adalah delegasi yang pertama kali datang, yang sudah membawa hasil dari satu Musyawarah Nasional Daerah, maka dengan demikian,  Pemerintah Pusat mulai lapang dadanya.
4.    Sebaiknya harus ada satu orang yang tetap tinggal di Pusat, supaya dapat mendesak Menteri-menteri dalam bidangnya masing-masing. Dengan demikian Beliau merasakan segala pembangunan akan dapat lebih lancar dilaksanakan daripada hanya dengan surat menyurat saja.
5.    Selanjutnya Beliau menyatakan apa yang disiarkan di surat kabar dengan Proklamasi Negara Sumatera dan Kalimantan adalah lelucon dari badut yang gagal.

Setelah delegasi menyatakan setia kepada  Proklamasi 17 Agustus 1945,  dan tetap berdiri di belakang Pemerintah Pusat dengan Kabinet Karya yang sekarang, maka pertemuan ini diakhiri dengan masing-masing mempunyai  keyakinan yang penuh bagi pembangunan daerah Kalimantan Tengah, karena delegasi telah diterima dengan resmi, disamping perasaan hubungan kekeluargaan yang sangat erat sekali dengan Y.M. Wakil Perdana Menteri II Idham Chalid, putera Indonesia yang kebetulan dilahirkan di Kalimantan.

18 Desember 1958
Jam 08.55 pagi delegasi diterima oleh Kepala Staff Angkatan Darat Letnan Jenderal A.H. Nasution. Ketua Delegasi Letnan Kolonel Darmosugondo melaporkan diri datang dengan anggota-anggota delegasi secara kemiliteran, kemudian menyerahkan buku Piagam Palangka Raya dengan resmi. Wakil Ketua delegasi menjelaskan  seperti kepada Menteri-menteri pada hari-hari yang lalu. Yang lebih ditegaskan pada hari ini adalah tentang pembangunan yang merupakan gedung-gedung, asrama, rumah tempat tinggal, pengangkutan seperti motorboat, motor tempel, jeep dan kendaraan-kendaraan lainnya yang sangat diperlukan sekali oleh Ketentaraan dan Kepolisian.
Kepala Staff Angkatan Darat dalam kata sambutannya menyatakan beberapa hal berikut :
1.    Kepala Staff Angkatan Darat akan memperhatikan Anggaran Belanja untuk bangunan-bangunan termasuk objek Kodam di Kuala Kapuas.
2.    Pelaksanaan Transmigrasi.
3.    Realita dari pembangunan dengan inisiatip dari partikelir (swasta, red) dibantu oleh alat-alat pemerintah.
4.    Agar pengusaha-pengusaha langsung mengambil perhatian untuk pembangunan objek-objek. Terakhir beliau mengatakan supaya daerah dengan segiat-giatnya bekerja, tidak hanya menuntut kepada Pemerintah Pusat saja, kalau sudah terpenuhi masalah keuangan dari Pemerintah Pusat, supaya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan jangan mengambil keuntungan untuk diri sendiri ataupun golongan.

Jam 10.20, Y.M. Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga  menerima delegasi. Setelah Ketua Delegasi menyerahkan Piagam Palangka Raya, dengan kata pengantar seperti telah disampaikan kepada Menteri-menteri yang terdahulu, maka Gubernur Tjilik Riwut sebagai Wakil Ketua memberikan pula penjelasan-penjelasan dengan singkat tentang hasil musyawarah, ditambah beberapa usul yang lain.
Yang Mulia Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Ir. Pangeran Moh. Noor, menyampaikan kesannya antara lain :
1.    Beliau sangat berterima kasih atas hasil yang telah ditelurkan oleh musyawarah yang telah diadakan di Palangka Raya tersebut. Beliau pada tanggal 28 November 1958 bersama-sama dengan Perdana Menteri, Kepala Staff Angkatan Udara, Sekjen Kementerian Dalam Negeri, serta penjabat-penjabat penting lainnya mendapat kesempatan bersama-sama berada di tengah-tengah Musyawarah itu.
2.    Beliau menyatakan  sedapat mungkin membantu mengusahakan penyelesaian segala pekerjaan yang diputuskan oleh Musyawarah itu.
3.    Mengenai rencana penyelesaian pembangunan Kota Palangka Raya pada tanggal 17-8-1959, Beliau mengajak kita bersama-sama melaksanakannya.
4.    Dana dari Kementerian PUT akan cepat dikeluarkan untuk melaksanakan pembangunan, yaitu untuk segala pekerjaan yang telah diotorisiert sedangkan budgeting kwartal pertama untuk tahun 1959 sudah dapat diterima.
5.    Bila anggaran belanja dari Kementerian-kementerian lain telah tersedia dalam hal ini terutama sekali dari Kementrian Dalam Negeri, maka Kementrian Pekerjaan Umum Tenaga akan menyelesaikan pembangunan-pembangunannya dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.
6.    Beliau sangat berbangga sekali karena Kabinet Karya sekarang telah dapat menyelesaikan rencana anggaran belanja tahun 1959 yang telah disetujui oleh Parlemen dan telah menjadi Undang-undang, sehingga dengan jalan demikian, tentu segala pembangunan dapat berjalan lancar.
7.    Perundingan dengan Sovyet Unie (Uni Soviet, ed.) tentang pinjaman 12 juta dollar (Amerika, ed.) sudah hampir selesai dan Kalimantan Tengah  juga akan mendapat bagiannya.
8.    Dana rampasan Jepang  juga akan diberikan untuk Kalimantan Tengah.
9.    Untuk belanja modal, juga sudah diberikan angka-angka yang konkrit adalah sebagai berikut :
6 buah kapal keruk @ Rp. 5.000.000,-       =Rp.     30.000.000,-
2 buah kapal tangki @ Rp. 74.000.000,-   = Rp.     14.800.000,-
2 buah kapal tarik @ Rp. 3.900.000,-      = Rp.    7.800.000,-
1 buah bis air @ Rp. 1.500.000    ,-      = Rp.    1.500.000,-
Biaya pengerukan 120 km saluran induk
@ Rp.205.400,- / km               = Rp.  24.648.000,-
Biaya pengerukan 120/5 x 10 km saluran
Sekunder 240 km @ Rp. 50.000,-              = Rp.  12.000.000,-
Listrik untuk Sampit               = Rp.  10.000.000,-
Untuk pembuatan jalan                        = Rp.  40.000.000,-
Total       = Rp.140.748.000,-

Masih ditambah 1 juta dolar Amerika untuk pembuatan jalan-jalan.

Angka-angka tersebut di atas hanyalah semata-mata dari Kementerian PUT saja, jadi tidak terhitung dari Kementerian lainnya. Beliau berharap pula bahwa Keputusan Musyawarah Nasional mendapat sokongan dari kementerian-kementerian yang lain dan Beliau sebagai putera Kalimantan akan turut serta memperjuangkannya. Dengan demikian berakhirlah kunjungan resmi dari delegasi pada Y.M. Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga, bertempat di rumah beliau di Kebayoran Baru.

19 Desember 1958.
Jam 09.10. delegasi diterima oleh Menteri Negara Urusan Transmigrasi. sebelumnya Ketua Delegasi menyerahkan Piagam Palangka Raya terlebih dahulu Y.M.Menteri F.L. Tobing menyampaikan beberapa kesan, antara lain:
1.    Beliau sangat gembira atas kedatangan para delegasi.
2.    Praktek yang tepat dan sederhana lebih baik dari pada teori yang muluk-muluk.
3.    Beliau bermaksud akan berkunjung pada pertengahan bulan Januari 1959 ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, untuk beberapa soal yaitu :
a.    Membicarakan dengan Pemerintah Daerah tentang ide-ide baru dari pelaksanaan transmigrasi.
b.    Menyerahkan tugas pada daerah.
c.    Mengunjungi objek-objek transmigrasi sambil memperhatikan sebab-sebab mandegnya pekerjaan yang dilaksanakan.
4.    Mengikuti kanalisasi dan rijstbodrijven oleh pertanian serta perkembangan pembangunan Palangka Raya.

Kemudian Ketua delegasi Letnan Kolonel Darmosugondo menyerahkan Piagam Palangka Raya, sebagai hasil Musyawarah Nasional yang telah diadakan tanggal 25 s/d 30 Nopember 1958, yang dihadiri oleh seluruh Pemerintah Sipil, Militer, diantaranya Penguasa Perang Daerah Kalimantan Tengah selaku Pimpinan dan Gubernur Kalimantan Tengah, serta Kepala-kepala Jawatan Tingkat Propinsi, Bupati-bupati, Ketua-ketua DPR Peralihan, Wakil Ketua DPD Peralihan, Perwira Distrik Militer, Kepala Polisi Tingkat Kabupaten dan Tokoh-tokoh dalam masyarakat tani dsb. Jumlah peserta mencapai lebih kurang 400 orang Dinyatakan juga bahwa Putusan Musyawarah ini adalah satu sumbangsih dari daerah bukan untuk Kalimantan Tengah saja, tetapi untuk warga negara Indonesia di seluruh Nusantara.

Pada saat itu delegasi menyampaikan satu masalah pokok yaitu tentang transmigrasi. Transmigrasi yang dimaksud ialah transmigrasi umum lokal dan spontan (suka rela). Daerah Kalimantan Tengah yang sangat luas sekali sedangkan penduduknya sangat sedikit, membuka pintu selebar-lebarnya untuk setiap warga negara Republik Indonesia, karena di Kalimantan Tengah telah dilaksanakan Operasi Makmur. Setelah itu Y.M. Menteri menyampaikan kesan-kesannya yang terakhir bahwa untuk kepentingan  transmigran, kedatangannya di daerah tidak dihadapkan dengan rimba-rimba, dengan kayunya yang besar-besar.

20 Desember 1958.
Sabtu jam 08.12, Y.M. Perdana Menteri Ir. Djuanda telah menerima kunjungan delegasi di ruangan kerjanya. Delegasi menghadap tanpa rombongan Ketua Letnan Kolonel Darmosugondo yang berhalangan datang karena sakit. Pimpinan lalu dipegang oleh Gubernur Tjilik Riwut. Setelah Gubernur menjelaskan bahwa Ketua Rombongan Delegasi Letnan Kolonel Darmosugondo berhalangan datang, beliau sebagai pimpinan menyerahkan Piagam Palangka Raya sebagai hasil Musyawarah Pembangunan Daerah dan menjelaskan berbagai hal sebagai hasil Musyawarah Pembangunan Daerah.  Penjelasan dari hasil musyawarah tersebut, diantaranya tentang pembagian harta benda (inventaris) yang bergerak dari Kalimantan dahulu untuk Kalimantan Tengah, bagi kepentingan sipil maupun militer
Perdana Menteri kemudian menyampaikan pesan sebagai berikut :
1.    Y.M. Perdana Menteri sangat gembira atas musyawarah yang telah di adakan di Palangka Raya secara sederhana dan unik sekali. Beliau sendiri dapat menghadirinya pada tanggal 28 Nopember 1958, dan sempat memberikan amanat selama beberapa menit.
2.    Beliau menaruh perhatian yang besar kepada pembangunan daerah dan beliau berikhtiar membantu sepenuh-penuhnya.
3.    Beliau sangat gembira dengan adanya putusan musyawarah untuk menerima transmigrasi untuk daerah Kalimantan Tengah. Tentang asimilasi dari para transmigran di daerah  akan diambil perhatian sambil meninjau kembali dasar-dasar pengalaman yang telah lalu.
4.    Beliau terharu dengan adanya lapangan terbang Panarung di Palangka Raya yang telah dapat dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat. Beliau telah merasakan sendiri mendarat dengan otter (twin otter, ed.) di Kalimantan di suatu lapangan dari hasil jerih lelah masyarakat di daerah itu sendiri.

Yang Mulia Perdana Menteri juga memberikan kesediaan Beliau sebagai perantara agar delegasi dapat menemui P.Y.M. Presiden dan Beliau pada saat itu juga telah berhubungan dengan ajudan Presiden di Istana.

Kemudian dari mulut Perdana Menteri keluar pernyataan bahwa delegasi Kalimantan Tengah akan diterima oleh P.Y.M. Presiden walaupun dalam beberapa menit saja, karena Kalimantan Tengah adalah Anak Emas dari Presiden Sukarno.

Selama lebih kurang 45 menit delegasi secara resmi telah diterima di Pejambon oleh Perdana Menteri. Perdana Menteri menyampaikan kegembiraan Beliau dan meminta maaf kepada delegasi karena hari sebelumnya, tanggal 19 desember 1958, sedianya akan diterima, tetapi karena kesibukan Pemerintah dengan pertanggunganjawaban kepada Parlemen, maka baru saat ini delegasi dapat diterima.

21 Desember 1958.
Jam 10.30 tepat, delegasi menghadap P.Y.M. Presiden Republik Indonesia, Dr. Ir. Soekarno di Istana Merdeka. Delegasi menghadap di bawah pimpinan Gubernur Tjilik Riwut (Ketua Delegasi Letnan Kolonel Darmosugondo masih sakit). Pada saat ini pula pimpinan Delegasi secara resmi menyerahkan Piagam Palangka Raya hasil dari Musyawarah Nasional Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah dengan diiringi penjelasan singkat.
P.Y.M. Presiden Soekarno kemudian menanyakan apakah delegasi sudah menemui pemerintah ( Perdana Menteri ), dan dijawab bahwa pada tanggal 20 Desember 1958 delegasi sudah diterima oleh Perdana Menteri. Paduka Yang Mulia Presiden mengajukan pertanyaan ini karena ingin mengetahui bagaimana pendirian dari pemerintah tentang hasil musyawarah ini.

Kesan dari P.Y.M. Presiden adalah sebagai berikut:

“Saya akan mendesakkan kepada Pemerintah dan umumnya instansi-instansi agar sedapat mungkin permintaan yang wajar untuk pembangunan daerah-daerah dapat direalisasikan, wajar dalam arti kata pantas, dan dapat dilaksanakan, baik dalam jangka panjang, maupun jangka pendek. Tetapi kepada permintaan yang tidak wajar, bukan saja sukar untuk memberikan dorongan kepada pemerintah dan instansi-instansi, bahkan saya akan berkata permintaan semacam itu kurang ajar.”

Selanjutnya Beliau mengatakan sejak semula saya mengerti keinginan daerah, untuk membangun daerahnya. Bukan saja Kalimantan Tengah, tetapi juga seluruh negara kita diperhatikan. Saya ingin sekali datang untuk meninjau kembali ke Palangka Raya, rindu hutan rimba, sungai-sungai dan kesunyian alamnya.

Beliau kemudian menanyakan kepada delegasi kapan beliau dapat datang lagi ke Palangka Raya. Dijawab oleh Gubernur Tjilik Riwut bahwa bila pembangunan Palangka Raya sebagai ibu kota dan alat-alat pemerintah yang direncanakan berjalan lancar sedapat mungkin sebagian besarnya pada tanggal 17 Agustus 1959 sudah dapat berkedudukan di ibu kota itu, maka secepat mungkin, P.Y.M Presiden dipersilahkan datang. Oleh karena itu delegasi memohonkan bantuan Beliau dalam rangka mempercepat pembangunan Palangka Raya dan seluruh Kalimantan Tengah.

P.Y.M. Presiden menanyakan apakah tugu controleur yang ada di Anjir Serapat sudah dibongkar apa belum. Dijawab oleh Bupati/Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Kapuas, J.C. Rangkap bahwa tugu itu sudah dibongkar pada akhir bulan Desember 1957, menjelang tahun 1958. Presiden mengharapkan agar Anjir Serapat dan Anjir Kelampan diperdalam agar lalu lintas tidak terhalang karenanya. Dijawab oleh Gubernur Kalimantan Tengah bahwa pada tahun 1959, kedua anjir tersebut akan dikeruk.

Kunjungan resmi ini berjalan hanya 32 menit dan sebenarnya terlihat bahwa Presiden masih ingin menanyakan keadaan di Kalimantan Tengah, akan tetapi terpaksa diakhiri karena ajudan Presiden sudah memberi tanda bahwa waktu telah lewat. Ternyata Menteri Pertahanan, Perdana Menteri,  K.S.A.D., K.S.A.U., telah menunggu kedatangan Presiden sehubungan dengan kedatangan dari Tamu Agung Presiden Yugoslavia.

Delegasi merasa sangat lega, karena harapan yang dirasakan semula sangat tipis untuk dapat menemui Kepala Negara di tengah kesibukan beliau, akan tetapi ternyata, Pemerintah Pusat dan Kepala Negara masih dapat memberikan kesempatan waktu untuk menerima laporan dari mulut pimpinan delegasi sendiri, sebagai penyambung lidah masyarakat di Kalimantan Tengah.

Pendapat Secara Umum

Delegasi sudah dapat diterima dengan sebaik-baiknya,  oleh Pemerintah Pusat dan Kepala Negara, dan telah menerima harapan-harapan yang baik, sehingga mulai tahun 1959 adalah saat dimulainya tahun karya untuk mencapai masyarakat adil dan makmur di seluruh Kalimantan Tengah. Delegasi secara resmi telah diterima dengan penuh ramah tamah, kekeluargaan yang erat, yang memberi kekuatan batin dan menambah keyakinan untuk membangun secara nyata.

Dalam hal ini pelapor telah menyaksikan sendiri bahwa tokoh Tjilik Riwut sebagai Gubernur Kepala Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah, berbuat jasa yang besar untuk merintis jalan bagi putera Daerah Kalimantan Tengah. Kalau awalnya delegasi agak pesimis untuk dapat menemui Pemerintah dan Kepala Negara, karena sedang menerima tamu-tamu agung yaitu Presiden India dan  Presiden Yugoslavia, maka dengan kebijaksanaan dari Tjilik Riwut sebagai anggota Dewan Nasional, dapat menemui apa yang diharapkan semula, yaitu menyampaikan Piagam Palangka Raya dan Naskah Bersama, ke tangan Kepala Negara sendiri.
Dengan tidak melupakan juga jasa-jasa dari seluruh peserta musyawarah dan anggota-anggota delegasi sendiri karena dengan doa restunya telah dapat menyampaikan cita-citanya walaupun masih dalam taraf perencanaan.

Laporan Singkat Pertemuan Delegasi Kalimantan Tengah dengan Pemerintah Pusat di Jakarta,
Saat Penyerahan Piagam Palangka Raya

Laporan  singkat ini bercerita tentang pembicaraan delegasi Kalimantan Tengah dengan Pemerintah Pusat di Jakarta ketika membawa Piagam Palangka Raya, hasil dari Musyawarah Nasional Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah yang diadakan pada tanggal 25 s/d 30 Nopember 1958 di Palangka Raya.
Delegasi Kalimantan Tengah ini terdiri atas:
Ketua         :   Letnan Kolonel Darmosugondo,Komandan Komando Daerah Militer (Kodam) Kalimantan Tengah.
Wakil Ketua     :   Tjilik Riwut,  Gubernur  /  Kepala   Daerah  Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah.
Anggota-anggota :
1.    Raden Gampang Prawirosastro, Kepala Polisi Propinsi Kalimantan Tengah.
2.    J.C. Rangkap, Bupati/Kepala daerah Swatantra Tingkat II Kapuas.
3.    Kapten B. Bajupati.
4.    Cyrillus Ulfah Ringkin, Anggota Polisi Negara.

Di Jakarta delegasi telah menemui :
1.    Paduka Yang Mulia Presiden Republik Indonesia Dr .Ir. Soekarno.
2.    Yang Mulia Perdana Menteri  Republik Indonesia Ir. Djuanda.
3.    Yang Mulia Wakil Perdana Menteri II  Idham Chalid.
4.    Kepala Staf Angkatan Darat, Letnan Djendral A.H. Nasution.
5.    Yang Mulia Menteri Dalam Negeri yang diwakili oleh Sekjen Menteri Dalam Negeri Raden Soeparto.
6.    Yang Mulia Menteri Pelayaran, Komodor Moh Nasir.
7.    Yang Mulia Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Ir. Pangeran Moh. Noor.
8.    Yang Mulia Menteri Negara Urusan Transmigrasi Dr. F.L. Tobing.
9.    Wakil Ketua Dewan Nasional Ruslan Abdulgani.

15 Desember 1958
Delegasi berunding di Medan Merdeka Selatan 13 (bekas istana wakil Presiden RI). Gubernur Tjilik Riwut sebagai Wakil Ketua delegasi berhubungan dengan Istana dan Kementerian-kementerian. Keputusan yang didapat bahwa delegasi dapat diterima pada tanggal 16 Desember 1958 oleh Y.M. Menteri Dalam Negeri.

16 Desember 1958
Jam 10.00 delegasi dengan resmi diterima oleh Sekjen Menteri Dalam Negeri yang mewakili Y.M. Menteri Dalam Negeri (berhalangan hadir karena sakit). Ketua delegasi Letnan Kolonel Darmosugondo telah menyerahkan hasil Musyawarah Nasional Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah dengan nama Piagam Palangka Raya dan Naskah Bersama dalam bentuk satu buku. Dengan singkat dijelaskan oleh Ketua Delegasi bahwa Musyawarah ini merupakan sumbangsih dari daerah untuk merealisasikan Pembangunan daerah Kalimantan Tengah sebagai lanjutan dari Musyawarah Nasional Pembangunan Pusat.

Pelaksanaan pembangunan dalam jangka pendek (1 tahun) dan jangka panjang (5 tahun) adalah menjadi pegangan dari musyawarah. Para pelaksana boleh pindah, orangnya boleh berganti, jika perlu mati, tetapi Piagam Palangka Raya, tetap menjadi pegangan bagi pembangunan daerah. Y.M. Menteri (dalam hal ini Sekjen) yang menghadiri sendiri musyawarah itu di Palangka Raya dan telah mempersaksikan sendiri kesederhanaan tempat dan caranya, sangat berbesar hati dapat menerima hasil musyawarah ini. Beliau mengucapkan terima kasih kepada delegasi dan bersedia menyampaikan hal ini kepada Y.M. Menteri Dalam Negeri, dan tiap-tiap pokok yang tertulis dalam musyawarah itu akan disalurkan dan dipelajari secara seksama oleh masing-masing bagian pada Kementerian Dalam Negeri dan kementerian yang lain.

Yang Mulia Menteri selanjutnya meminta sedikit penjelasan maupun tambahan dari isi Musyawarah itu. Ketua Delegasi menyerahkan kesempatan untuk memberi penjelasan tersebut kepada Wakil Ketua yaitu Gubernur Tjilik Riwut.
Secara singkat Gubernur Tjilik Riwut telah menguraikan beberapa hal antara lain :
1.    Pembangunan Kota Palangka Raya sedapat mungkin selesai tanggal 17-8-1959, dengan pembangunan rumah-rumah dan gedung sebanyak 300 sampai 400 buah.
2.    Pembukaan jalan-jalan dan hubungan laut, darat dan udara dipercepat.
3.    PTT dan RRI supaya tahun 1959 dapat selesai dibangun.
4.    Pengangkutan yang dapat dilaksanakan dalam jangka pendek untuk kepentingan sipil dan militer diantaranya motorboat, jeep, pick up,truck, dsb.
5.    Penerangan listrik pada tempat-tempat penting di seluruh Kalimantan Tengah.
6.    Pelabuhan-pelabuhan baru di Mintin dan Kuala Kapuas, dan memperbaiki dan memperluas pelabuhan Sampit dan Kumai. Pengerukan muara Sungai Kapuas dan Kahayan.
7.    Transmigrasi sangat diperlukan mengingat daerah sangat luas sekali, sedangkan operasi makmur sebagian besar akan dilaksanakan di daerah Kalimantan Tengah.
8.    Dan lain-lain hal yang telah dijelaskan di dalam Piagam Palangka Raya.

Y.M. Menteri Dalam Negeri telah memberikan kesediaan diri untuk menjadi perantara agar delegasi dapat diterima oleh menteri-menteri yang lainnya walaupun pada saat ini pemerintah sedang sibuk menerima Tamu-tamu Agung, diantaranya Presiden India dan disusul pula dengan Presiden Yugoslavia. Dengan ramah sekali Y.M. Menteri menerima delegasi dan akan memberi bantuan yang besar sekali bagi daerah Kalimantan Tengah.

17 Desember 1958
Delegasi diterima oleh Wakil Ketua Dewan Nasional Ruslan Abdulgani di Gedung Dewan Nasional. Seperti pada tanggal 16 Desember 1958, waktu penyerahan Piagam Palangka Raya, yaitu pada saat ini pula pada jam 10.15 Ketua Delegasi menyerahkan buku tersebut kepada Wakil Ketua Dewan Nasional, dengan penjelasan yang sama oleh Gubernur Tjilik Riwut, dengan tambahan dimohonkan tenaga-tenaga ahli dan diterangkan bahwa jalan-jalan menuju Sungai Hanyu, dimana akan didirikan Monumen Dewan Nasional akan mulai dikerjakan pada tahun 1959.
Sebagai sambutan atas hasil musyawarah ini, wakil Ketua Dewan Nasional antara lain mengatakan :
1.    Bahwa hasil dari Musyawarah Dewan itu sudah lebih dahulu diterima oleh Dewan Nasional di Jakarta.
2.    Apa yang disampaikan ini adalah satu ketegasan dari Kalimantan Tengah sebagaimana tebalnya buku ini, demikian pula semangat hendaknya.
3.    Keputusan-keputusan ini adalah tepat pada waktunya, disampaikan kepada pemerintah Pusat, adalah tidak cepat dan tidak pula terlambat.
4.    Bekerja, di mana Dewan Perancang Nasional sekarang sedang membuat rencana, adanya musyawarah ini adalah memberi cukup bahan-bahan.
5.    Bahan-bahan yang dibawa adalah lebih mendahului dari orang yang ditunjuk menjadi Perancang Dewan Nasional.
6.    Kami ingin menjadikan Kalimantan satu model dan modal (sungai Hanyu khususnya) dengan Lembaga Pembangunan Monumen Nasional. Monumen mana adalah satu perpaduan antara materiel dan spritual. Cita-cita ini adalah berani. Anggota Dewan Nasional Henk Ngantung mempunyai laporan yang sangat berharga sekali yang dibawanya dengan lukisan realitas keadaan Kalimantan.
7.    Hasil Musyawarah ini akan disampaikan kepada Ketua Dewan Nasional yaitu P.Y.M. Presiden Soekarno.
8.    Tjilik Riwut sebagai anggota Dewan Nasional akan diperintahkan melakukan perjalanan ke seluruh Tanah Jawa untuk berhubungan dengan kepala-kepala daerah dan instansi-instansi yang bersangkutan untuk mulai melaksanakan sesuatu dengan nyata, dan akhirnya.
9.    Beliau menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada delegasi bahwa Kalimantan bukan saja satu Pion, akan tetapi sedikit-sedikitnya satu Benteng kalau tidak dapat disebutkan satu Batu dari sudut geografis dari kepulauan Nusantara.

Dengan berbesar hati, delegasi sesudah diterima dengan ramah-tamah meninggalkan gedung Dewan Nasional. Jam 11.00 delegasi diterima oleh Y.M. Menteri Pelayaran Komodor Moh.Nasir, dan sesudah Ketua Delegasi menyerahkan buku Piagam Palangka Raya, maka Wakil Ketua, Gubernur Tjilik Riwut memberikan penjelasan seperti kepada Y.M. Menteri Dalam Negeri dan Wakil Ketua Dewan Nasional.
Dan lebih ditekankan lagi antara lain :
1.    Minta kapal-kapal untuk pelayaran di pantai dan di sungai.
2.    Membuat pelabuhan baru yang memperluas serta memperbaiki pelabuhan-pelabuhan yang ada di Kalimantan Tengah
3.    Muara-muara sungai supaya dikeruk dan lampu-lampu untuk tanda di laut diadakan.
4.     Minta diadakan sekolah pelayaran di Kalimantan Tengah dan membuat tempat pembangunan kapal-kapal yang dapat dibangun di Danau Sambuluh Kuala Pembuang.

Y.M. Menteri menyatakan :
1.    Dengan ucapan terima kasih menerima Piagam Palangka Raya ini, dan akan mempelajarinya dengan seksama.
2.    Kalimantan Tengah akan mendapat bantuan kapal yang besarnya kira-kira 600 ton, dan kalau tidak ada halangan apa-apa pada pertengahan Pebruari 1959 akan dapat diterima.

Y.M. Menteri, selain sendiri menerima delegasi dengan resmi dan penuh ramah tamah, secara kekeluargaan merasakan diri berasal dari Kalimantan karena semasa masih muda sudah kenal baik dengan Bupati/Kepala daerah Swatantra Tingkat II Kapuas, J.C. Rangkap sebagai olahragawan.
Jam 17.15 delegasi diterima oleh Y.M. Wakil Perdana Menteri II Idham Chalid. Sesudah Ketua Delegasi menyerahkan hasil musyawarah, Gubernur Tjilik Riwut menjelaskan garis-garis besar apa yang menjadi tuntutan dari Musyawarah Pembangunan Nasional diadakan di Palangka Raya.
Y.M. Perdana Menteri II menyatakan :
1.    Terima kasih yang setinggi-tingginya karena delegasi telah menyerahkan satu kepercayaan yang besar kepada Beliau sebagai seorang anggota kabinet yang banyak memperhatikan pertumbuhan daerah Kalimantan Tengah. Apalagi pula telah terbuka hatinya untuk kepentingan pembangunan daerahnya secara meluas.
2.    Menteri Transmigrasi sedang betul-betul mempelajari agar tidak terjadi kembali kegagalan mendatangkan transmigran ke daerah-daerah. Semua kekurangan-kekurangan dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan akan menjadi pelajaran di kemudian hari.
3.    Menurut pendapat Beliau, delegasi ini adalah delegasi yang pertama kali datang, yang sudah membawa hasil dari satu Musyawarah Nasional Daerah, maka dengan demikian,  Pemerintah Pusat mulai lapang dadanya.
4.    Sebaiknya harus ada satu orang yang tetap tinggal di Pusat, supaya dapat mendesak Menteri-menteri dalam bidangnya masing-masing. Dengan demikian Beliau merasakan segala pembangunan akan dapat lebih lancar dilaksanakan daripada hanya dengan surat menyurat saja.
5.    Selanjutnya Beliau menyatakan apa yang disiarkan di surat kabar dengan Proklamasi Negara Sumatera dan Kalimantan adalah lelucon dari badut yang gagal.

Setelah delegasi menyatakan setia kepada  Proklamasi 17 Agustus 1945,  dan tetap berdiri di belakang Pemerintah Pusat dengan Kabinet Karya yang sekarang, maka pertemuan ini diakhiri dengan masing-masing mempunyai  keyakinan yang penuh bagi pembangunan daerah Kalimantan Tengah, karena delegasi telah diterima dengan resmi, disamping perasaan hubungan kekeluargaan yang sangat erat sekali dengan Y.M. Wakil Perdana Menteri II Idham Chalid, putera Indonesia yang kebetulan dilahirkan di Kalimantan.

18 Desember 1958
Jam 08.55 pagi delegasi diterima oleh Kepala Staff Angkatan Darat Letnan Jenderal A.H. Nasution. Ketua Delegasi Letnan Kolonel Darmosugondo melaporkan diri datang dengan anggota-anggota delegasi secara kemiliteran, kemudian menyerahkan buku Piagam Palangka Raya dengan resmi. Wakil Ketua delegasi menjelaskan  seperti kepada Menteri-menteri pada hari-hari yang lalu. Yang lebih ditegaskan pada hari ini adalah tentang pembangunan yang merupakan gedung-gedung, asrama, rumah tempat tinggal, pengangkutan seperti motorboat, motor tempel, jeep dan kendaraan-kendaraan lainnya yang sangat diperlukan sekali oleh Ketentaraan dan Kepolisian.
Kepala Staff Angkatan Darat dalam kata sambutannya menyatakan beberapa hal berikut :
1.    Kepala Staff Angkatan Darat akan memperhatikan Anggaran Belanja untuk bangunan-bangunan termasuk objek Kodam di Kuala Kapuas.
2.    Pelaksanaan Transmigrasi.
3.    Realita dari pembangunan dengan inisiatip dari partikelir (swasta, red) dibantu oleh alat-alat pemerintah.
4.    Agar pengusaha-pengusaha langsung mengambil perhatian untuk pembangunan objek-objek. Terakhir beliau mengatakan supaya daerah dengan segiat-giatnya bekerja, tidak hanya menuntut kepada Pemerintah Pusat saja, kalau sudah terpenuhi masalah keuangan dari Pemerintah Pusat, supaya dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan jangan mengambil keuntungan untuk diri sendiri ataupun golongan.

Jam 10.20, Y.M. Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga  menerima delegasi. Setelah Ketua Delegasi menyerahkan Piagam Palangka Raya, dengan kata pengantar seperti telah disampaikan kepada Menteri-menteri yang terdahulu, maka Gubernur Tjilik Riwut sebagai Wakil Ketua memberikan pula penjelasan-penjelasan dengan singkat tentang hasil musyawarah, ditambah beberapa usul yang lain.
Yang Mulia Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga Ir. Pangeran Moh. Noor, menyampaikan kesannya antara lain :
1.    Beliau sangat berterima kasih atas hasil yang telah ditelurkan oleh musyawarah yang telah diadakan di Palangka Raya tersebut. Beliau pada tanggal 28 November 1958 bersama-sama dengan Perdana Menteri, Kepala Staff Angkatan Udara, Sekjen Kementerian Dalam Negeri, serta penjabat-penjabat penting lainnya mendapat kesempatan bersama-sama berada di tengah-tengah Musyawarah itu.
2.    Beliau menyatakan  sedapat mungkin membantu mengusahakan penyelesaian segala pekerjaan yang diputuskan oleh Musyawarah itu.
3.    Mengenai rencana penyelesaian pembangunan Kota Palangka Raya pada tanggal 17-8-1959, Beliau mengajak kita bersama-sama melaksanakannya.
4.    Dana dari Kementerian PUT akan cepat dikeluarkan untuk melaksanakan pembangunan, yaitu untuk segala pekerjaan yang telah diotorisiert sedangkan budgeting kwartal pertama untuk tahun 1959 sudah dapat diterima.
5.    Bila anggaran belanja dari Kementerian-kementerian lain telah tersedia dalam hal ini terutama sekali dari Kementrian Dalam Negeri, maka Kementrian Pekerjaan Umum Tenaga akan menyelesaikan pembangunan-pembangunannya dalam jangka waktu yang telah ditetapkan.
6.    Beliau sangat berbangga sekali karena Kabinet Karya sekarang telah dapat menyelesaikan rencana anggaran belanja tahun 1959 yang telah disetujui oleh Parlemen dan telah menjadi Undang-undang, sehingga dengan jalan demikian, tentu segala pembangunan dapat berjalan lancar.
7.    Perundingan dengan Sovyet Unie (Uni Soviet, ed.) tentang pinjaman 12 juta dollar (Amerika, ed.) sudah hampir selesai dan Kalimantan Tengah  juga akan mendapat bagiannya.
8.    Dana rampasan Jepang  juga akan diberikan untuk Kalimantan Tengah.
9.    Untuk belanja modal, juga sudah diberikan angka-angka yang konkrit adalah sebagai berikut :
6 buah kapal keruk @ Rp. 5.000.000,-       =Rp.     30.000.000,-
2 buah kapal tangki @ Rp. 74.000.000,-   = Rp.     14.800.000,-
2 buah kapal tarik @ Rp. 3.900.000,-      = Rp.    7.800.000,-
1 buah bis air @ Rp. 1.500.000    ,-      = Rp.    1.500.000,-
Biaya pengerukan 120 km saluran induk
@ Rp.205.400,- / km               = Rp.  24.648.000,-
Biaya pengerukan 120/5 x 10 km saluran
Sekunder 240 km @ Rp. 50.000,-              = Rp.  12.000.000,-
Listrik untuk Sampit               = Rp.  10.000.000,-
Untuk pembuatan jalan                        = Rp.  40.000.000,-
Total       = Rp.140.748.000,-

Masih ditambah 1 juta dolar Amerika untuk pembuatan jalan-jalan.

Angka-angka tersebut di atas hanyalah semata-mata dari Kementerian PUT saja, jadi tidak terhitung dari Kementerian lainnya. Beliau berharap pula bahwa Keputusan Musyawarah Nasional mendapat sokongan dari kementerian-kementerian yang lain dan Beliau sebagai putera Kalimantan akan turut serta memperjuangkannya. Dengan demikian berakhirlah kunjungan resmi dari delegasi pada Y.M. Menteri Pekerjaan Umum dan Tenaga, bertempat di rumah beliau di Kebayoran Baru.

19 Desember 1958.
Jam 09.10. delegasi diterima oleh Menteri Negara Urusan Transmigrasi. sebelumnya Ketua Delegasi menyerahkan Piagam Palangka Raya terlebih dahulu Y.M.Menteri F.L. Tobing menyampaikan beberapa kesan, antara lain:
1.    Beliau sangat gembira atas kedatangan para delegasi.
2.    Praktek yang tepat dan sederhana lebih baik dari pada teori yang muluk-muluk.
3.    Beliau bermaksud akan berkunjung pada pertengahan bulan Januari 1959 ke Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, untuk beberapa soal yaitu :
a.    Membicarakan dengan Pemerintah Daerah tentang ide-ide baru dari pelaksanaan transmigrasi.
b.    Menyerahkan tugas pada daerah.
c.    Mengunjungi objek-objek transmigrasi sambil memperhatikan sebab-sebab mandegnya pekerjaan yang dilaksanakan.
4.    Mengikuti kanalisasi dan rijstbodrijven oleh pertanian serta perkembangan pembangunan Palangka Raya.

Kemudian Ketua delegasi Letnan Kolonel Darmosugondo menyerahkan Piagam Palangka Raya, sebagai hasil Musyawarah Nasional yang telah diadakan tanggal 25 s/d 30 Nopember 1958, yang dihadiri oleh seluruh Pemerintah Sipil, Militer, diantaranya Penguasa Perang Daerah Kalimantan Tengah selaku Pimpinan dan Gubernur Kalimantan Tengah, serta Kepala-kepala Jawatan Tingkat Propinsi, Bupati-bupati, Ketua-ketua DPR Peralihan, Wakil Ketua DPD Peralihan, Perwira Distrik Militer, Kepala Polisi Tingkat Kabupaten dan Tokoh-tokoh dalam masyarakat tani dsb. Jumlah peserta mencapai lebih kurang 400 orang Dinyatakan juga bahwa Putusan Musyawarah ini adalah satu sumbangsih dari daerah bukan untuk Kalimantan Tengah saja, tetapi untuk warga negara Indonesia di seluruh Nusantara.

Pada saat itu delegasi menyampaikan satu masalah pokok yaitu tentang transmigrasi. Transmigrasi yang dimaksud ialah transmigrasi umum lokal dan spontan (suka rela). Daerah Kalimantan Tengah yang sangat luas sekali sedangkan penduduknya sangat sedikit, membuka pintu selebar-lebarnya untuk setiap warga negara Republik Indonesia, karena di Kalimantan Tengah telah dilaksanakan Operasi Makmur. Setelah itu Y.M. Menteri menyampaikan kesan-kesannya yang terakhir bahwa untuk kepentingan  transmigran, kedatangannya di daerah tidak dihadapkan dengan rimba-rimba, dengan kayunya yang besar-besar.

20 Desember 1958.
Sabtu jam 08.12, Y.M. Perdana Menteri Ir. Djuanda telah menerima kunjungan delegasi di ruangan kerjanya. Delegasi menghadap tanpa rombongan Ketua Letnan Kolonel Darmosugondo yang berhalangan datang karena sakit. Pimpinan lalu dipegang oleh Gubernur Tjilik Riwut. Setelah Gubernur menjelaskan bahwa Ketua Rombongan Delegasi Letnan Kolonel Darmosugondo berhalangan datang, beliau sebagai pimpinan menyerahkan Piagam Palangka Raya sebagai hasil Musyawarah Pembangunan Daerah dan menjelaskan berbagai hal sebagai hasil Musyawarah Pembangunan Daerah.  Penjelasan dari hasil musyawarah tersebut, diantaranya tentang pembagian harta benda (inventaris) yang bergerak dari Kalimantan dahulu untuk Kalimantan Tengah, bagi kepentingan sipil maupun militer
Perdana Menteri kemudian menyampaikan pesan sebagai berikut :
1.    Y.M. Perdana Menteri sangat gembira atas musyawarah yang telah di adakan di Palangka Raya secara sederhana dan unik sekali. Beliau sendiri dapat menghadirinya pada tanggal 28 Nopember 1958, dan sempat memberikan amanat selama beberapa menit.
2.    Beliau menaruh perhatian yang besar kepada pembangunan daerah dan beliau berikhtiar membantu sepenuh-penuhnya.
3.    Beliau sangat gembira dengan adanya putusan musyawarah untuk menerima transmigrasi untuk daerah Kalimantan Tengah. Tentang asimilasi dari para transmigran di daerah  akan diambil perhatian sambil meninjau kembali dasar-dasar pengalaman yang telah lalu.
4.    Beliau terharu dengan adanya lapangan terbang Panarung di Palangka Raya yang telah dapat dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat. Beliau telah merasakan sendiri mendarat dengan otter (twin otter, ed.) di Kalimantan di suatu lapangan dari hasil jerih lelah masyarakat di daerah itu sendiri.

Yang Mulia Perdana Menteri juga memberikan kesediaan Beliau sebagai perantara agar delegasi dapat menemui P.Y.M. Presiden dan Beliau pada saat itu juga telah berhubungan dengan ajudan Presiden di Istana.

Kemudian dari mulut Perdana Menteri keluar pernyataan bahwa delegasi Kalimantan Tengah akan diterima oleh P.Y.M. Presiden walaupun dalam beberapa menit saja, karena Kalimantan Tengah adalah Anak Emas dari Presiden Sukarno.

Selama lebih kurang 45 menit delegasi secara resmi telah diterima di Pejambon oleh Perdana Menteri. Perdana Menteri menyampaikan kegembiraan Beliau dan meminta maaf kepada delegasi karena hari sebelumnya, tanggal 19 desember 1958, sedianya akan diterima, tetapi karena kesibukan Pemerintah dengan pertanggunganjawaban kepada Parlemen, maka baru saat ini delegasi dapat diterima.

21 Desember 1958.
Jam 10.30 tepat, delegasi menghadap P.Y.M. Presiden Republik Indonesia, Dr. Ir. Soekarno di Istana Merdeka. Delegasi menghadap di bawah pimpinan Gubernur Tjilik Riwut (Ketua Delegasi Letnan Kolonel Darmosugondo masih sakit). Pada saat ini pula pimpinan Delegasi secara resmi menyerahkan Piagam Palangka Raya hasil dari Musyawarah Nasional Pembangunan Daerah Kalimantan Tengah dengan diiringi penjelasan singkat.
P.Y.M. Presiden Soekarno kemudian menanyakan apakah delegasi sudah menemui pemerintah ( Perdana Menteri ), dan dijawab bahwa pada tanggal 20 Desember 1958 delegasi sudah diterima oleh Perdana Menteri. Paduka Yang Mulia Presiden mengajukan pertanyaan ini karena ingin mengetahui bagaimana pendirian dari pemerintah tentang hasil musyawarah ini.

Kesan dari P.Y.M. Presiden adalah sebagai berikut:

“Saya akan mendesakkan kepada Pemerintah dan umumnya instansi-instansi agar sedapat mungkin permintaan yang wajar untuk pembangunan daerah-daerah dapat direalisasikan, wajar dalam arti kata pantas, dan dapat dilaksanakan, baik dalam jangka panjang, maupun jangka pendek. Tetapi kepada permintaan yang tidak wajar, bukan saja sukar untuk memberikan dorongan kepada pemerintah dan instansi-instansi, bahkan saya akan berkata permintaan semacam itu kurang ajar.”

Selanjutnya Beliau mengatakan sejak semula saya mengerti keinginan daerah, untuk membangun daerahnya. Bukan saja Kalimantan Tengah, tetapi juga seluruh negara kita diperhatikan. Saya ingin sekali datang untuk meninjau kembali ke Palangka Raya, rindu hutan rimba, sungai-sungai dan kesunyian alamnya.

Beliau kemudian menanyakan kepada delegasi kapan beliau dapat datang lagi ke Palangka Raya. Dijawab oleh Gubernur Tjilik Riwut bahwa bila pembangunan Palangka Raya sebagai ibu kota dan alat-alat pemerintah yang direncanakan berjalan lancar sedapat mungkin sebagian besarnya pada tanggal 17 Agustus 1959 sudah dapat berkedudukan di ibu kota itu, maka secepat mungkin, P.Y.M Presiden dipersilahkan datang. Oleh karena itu delegasi memohonkan bantuan Beliau dalam rangka mempercepat pembangunan Palangka Raya dan seluruh Kalimantan Tengah.

P.Y.M. Presiden menanyakan apakah tugu controleur yang ada di Anjir Serapat sudah dibongkar apa belum. Dijawab oleh Bupati/Kepala Daerah Swatantra Tingkat II Kapuas, J.C. Rangkap bahwa tugu itu sudah dibongkar pada akhir bulan Desember 1957, menjelang tahun 1958. Presiden mengharapkan agar Anjir Serapat dan Anjir Kelampan diperdalam agar lalu lintas tidak terhalang karenanya. Dijawab oleh Gubernur Kalimantan Tengah bahwa pada tahun 1959, kedua anjir tersebut akan dikeruk.

Kunjungan resmi ini berjalan hanya 32 menit dan sebenarnya terlihat bahwa Presiden masih ingin menanyakan keadaan di Kalimantan Tengah, akan tetapi terpaksa diakhiri karena ajudan Presiden sudah memberi tanda bahwa waktu telah lewat. Ternyata Menteri Pertahanan, Perdana Menteri,  K.S.A.D., K.S.A.U., telah menunggu kedatangan Presiden sehubungan dengan kedatangan dari Tamu Agung Presiden Yugoslavia.

Delegasi merasa sangat lega, karena harapan yang dirasakan semula sangat tipis untuk dapat menemui Kepala Negara di tengah kesibukan beliau, akan tetapi ternyata, Pemerintah Pusat dan Kepala Negara masih dapat memberikan kesempatan waktu untuk menerima laporan dari mulut pimpinan delegasi sendiri, sebagai penyambung lidah masyarakat di Kalimantan Tengah.

Pendapat Secara Umum

Delegasi sudah dapat diterima dengan sebaik-baiknya,  oleh Pemerintah Pusat dan Kepala Negara, dan telah menerima harapan-harapan yang baik, sehingga mulai tahun 1959 adalah saat dimulainya tahun karya untuk mencapai masyarakat adil dan makmur di seluruh Kalimantan Tengah. Delegasi secara resmi telah diterima dengan penuh ramah tamah, kekeluargaan yang erat, yang memberi kekuatan batin dan menambah keyakinan untuk membangun secara nyata.

Dalam hal ini pelapor telah menyaksikan sendiri bahwa tokoh Tjilik Riwut sebagai Gubernur Kepala Daerah Swatantra Tingkat I Kalimantan Tengah, berbuat jasa yang besar untuk merintis jalan bagi putera Daerah Kalimantan Tengah. Kalau awalnya delegasi agak pesimis untuk dapat menemui Pemerintah dan Kepala Negara, karena sedang menerima tamu-tamu agung yaitu Presiden India dan  Presiden Yugoslavia, maka dengan kebijaksanaan dari Tjilik Riwut sebagai anggota Dewan Nasional, dapat menemui apa yang diharapkan semula, yaitu menyampaikan Piagam Palangka Raya dan Naskah Bersama, ke tangan Kepala Negara sendiri.
Dengan tidak melupakan juga jasa-jasa dari seluruh peserta musyawarah dan anggota-anggota delegasi sendiri karena dengan doa restunya telah dapat menyampaikan cita-citanya walaupun masih dalam taraf perencanaan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s